Tawuran Bukan Budaya Kita, Oleh Margiono Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang

SERANG, (variabanten.com) – Di berbagai sudut kota, pemandangan pelajar saling serang dengan senjata tajam bukan lagi hal mengejutkan. Tawuran seolah menjadi bagian dari “tradisi” remaja di kota besar. Setiap tahun, daftar korban bertambah, rasa aman berkurang, tapi penyebab utamanya tetap luput dari perhatian serius. Pertanyaannya, benarkah tawuran adalah budaya Indonesia? Atau justru buah dari pengaruh luar, khususnya budaya kekerasan Barat?

Jawaban yang jujur dan penting untuk ditegaskan: tawuran bukan budaya kita. Ia tidak berasal dari nilai-nilai lokal bangsa Indonesia, apalagi dari warisan luhur para pendiri bangsa. Nilai-nilai asli masyarakat Indonesia justru menjunjung tinggi perdamaian, musyawarah, dan penyelesaian konflik secara kolektif.

Dalam masyarakat adat, konflik diselesaikan melalui rembuk, bukan lempar batu. Dalam kearifan lokal, marah tidak dibiarkan membakar kampung, melainkan disiram oleh tetua dan nilai-nilai adat. Maka menyebut tawuran sebagai budaya Indonesia adalah bentuk normalisasi kekerasan yang sangat menyesatkan.

Lalu, apakah ini murni pengaruh budaya Barat?

Memang tak dapat dipungkiri bahwa media Barat, mulai dari film aksi, video game, hingga konten kekerasan di media sosial, memiliki peran dalam membentuk cara pandang remaja terhadap kekuasaan dan keberanian. Tayangan gangster dipuja, adu jotos dijadikan hiburan, dan kekerasan dipoles menjadi simbol kejantanan.

Namun budaya luar tidak akan tumbuh jika tanah tempatnya tumbuh tidak subur. Yang menjadi masalah bukan sekadar pengaruh Barat, tapi tanah sosial kita yang sudah retak. Sekolah kehilangan fungsi sebagai ruang pembinaan karakter. Keluarga abai menjadi pendidik utama. Ruang-ruang publik yang sehat bagi remaja semakin sempit. Maka ketika semua itu hilang, kekerasan hadir sebagai bahasa baru yang dimengerti banyak anak muda: cepat, mudah, dan terasa “kuat”.

Tawuran adalah budaya patologis, bukan warisan atau budaya luhur. Ia lahir dari krisis identitas dan kegagalan sosial kolektif. Kita tak bisa menyalahkan satu pihak saja. Negara harus hadir lebih tegas. Sekolah harus kembali memanusiakan pendidikan. Keluarga harus menjadi pagar pertama anak-anak. Dan yang terpenting, masyarakat harus berhenti diam dan membiarkan kekerasan menjadi “bagian biasa” dari kehidupan kota.

Sudah waktunya kita menyatakan tegas: tawuran bukan bagian dari jati diri bangsa ini. Bukan budaya Indonesia, dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Kita punya warisan yang jauh lebih beradab: gotong royong, adat musyawarah, dan budaya damai. Itu yang seharusnya diwariskan ke generasi muda bukan celurit, bukan batu, bukan darah.

VB-Sf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *